2307
Ikhtiar Mendidik Anak Menurut Panduan Islam
Geng di Sekolah Dasar
Membaca paper bertajuk Schools as Safe Havens: A Primary Grade Gang Prevention Program (Sekolah sebagai Tempat Berteduh yang Aman: Program Pencegahan Terbentuknya Geng di Sekolah Dasar) tulisan Penelope Theisen and Karla Stewart Johnson terasa ada menyesak di dada. Ini memang tulisan lama, tahun 1997 (sudah sangat lama, ya), tetapi saya merasa khawatir bahwa fenomena geng untuk untuk jenjang SLTP saja seharusnya tidak terjadi, benar-benar mulai ada di sebagian sekolah dasar. Setidaknya inilah catatan dari beberapa perjalanan saya.
Paper Theisen & Johnson merupakan tulisan yang membahas isu krusial, tidak menyenangkan, tapi sangat perlu diketahui untuk mengenali ada tidaknya potensi geng. Menggabungkan dengan literatur lain, ada beragam geng yang sangat mungkin muncul, meskipun terbentuknya geng di SD merupakan mimpi buruk.
Geng kerapkali berhubungan dengan potensi delinkuensi atau kenakalan serius, setidaknya mempengaruhi iklim kelas sehingga tidak positif. Di negara dimana kualitas hubungan dan ikatan emosi anak dan orangtua kurang kuat, sementara dukungan sosial dari lingkungan juga lemah, geng lebih wajar (bukan berarti itu baik) terbentuk masa SMP. Tetapi terbentuknya geng di sekolah dasar, terlebih jika masuk kategori starter gang (geng benih delinkuensi awal) sangat mengkhawatirkan.
Perlu penanganan khusus terhadap gang leader (pemimpin geng) maupun pencetusnya dan penanganan terpadu terhadap anak yang ikut geng maupun terdampak. Ini berarti sekolah perlu memilah-milah secara cermat agar tidak salah alamat dalam memberikan penanganan.
Anak yang terdampak memiliki beberapa tingkatan dan keadaan. Ada yang terdampak secara langsung dengan berbagai varian akibatnya, baik ketergantungan dalam arti dependence, ketergantungan dalam konteks sub-ordinasi maupun kelekatan tidak aman. Ini hanyalah sedikit dari contoh dampak yang dimungkinkan timbul. Lebih jelasnya, sebagaimana pernah saya tulis di halaman ini juga, kita perlu menelusuri secara etiologis. Jika hanya memperhatikan secara simptomatik, akar masalah tak dapat diurai.
Anak yang sejak awal memiliki resiko (student at risk) nakal, gagal belajar dan apalagi terlihat jelas kecenderungan untuk punya geng, harus langsung ditangani secara terencana agar resiko tersebut tidak meluas kepada anak-anak lain dan secara umum menghambat iklim kelas. Dengan demikian, masalah tidak perlu berkembang ke tingkat sangat serius hingga jenjang kelas berikutnya. Lebih segera lebih baik hasilnya.
Ada istilah yang sangat indah didengar, tetapi kerapkali sangat kabur maknanya. Banyak orangtua mengatakan, yang paling penting bukan banyaknya waktu bersama anak, tetapi kualitasnya. Pertanyaannya, kapankah waktu pendek kita itu disebut sebagai waktu berkualitas (quality time). Ini penting agar kita tidak merasa berkualitas, padahal anak-anak merasa tidak kita perhatikan. Sungguh, betapa banyak orangtua yang mencintai anaknya sepenuh hati, sementara anaknya merasa tidak dicintai. Nah, apalagi dalam soal waktu yang disebut berkualitas, tatkala orangtua meluangkan hanya sedikit waktu, atau bahkan tidak meluangkannya.
Sungguh, sangat berbeda bersama dengan anak (with children) dengan dekat secara fisik (in proximity). Sangat berbeda antara kebersamaan (togetherness) dengan sama-sama berada di tempat yang sama (physical closeness), melakukan kegiatan yang sama, tetapi hakekatnya mereka asyik dengan dunianya masing-masing. Betapa banyak yang seolah tertawa bersama, padahal sebenarnya sama-sama tertawa. Tak ada canda di antara mereka. Hanya sama-sama sedang menikmati kelucuan di perangkat masing-masing, lalu mereka tertawa.
Ingin baca tulisan tersebut di facebook? Klik di sini:
https://m.facebook.com/notes/mohammad-fauzil-adhim/memilih-sekolah-untuk-anak/217906634925139/
ang lebih menggembirakan, dikarenakan pilihan yang kurang menyenangkan tersebut lebih bersesuaian dengan keyakinan yang dipeganginya. Kedua, motivasi dan kecintaannya terhadap profesi sebagai guru. Ketiga, kompetensi yang berkait dengan bidang keahlian yang diajarkan maupun kecakapan mengajarkan kepada siswa.
Читать полностью…
Atau telusuri di website Hidayatullah:
http://m.hidayatullah.com/kolom/meminang-surga/read/2015/04/13/68069/jangan-remehkan-dakwah-kepada-anak.html#.VpjrbEmySSw
ya melunakkan hati orang dewasa justru bersebab terabaikannya dakwah kepada mereka di saat belia.
Wallahu a’lam bish-shawab. Kepada Allah Ta’ala kita memohon pertolongan. Maafkan saya.*
Jangan Remehkan Dakwah Kepada Anak
Oleh: Mohammad Fauzil Adhim
JANGAN remehkan dakwah kepada anak-anak! Jika telah terikat hatinya dengan Islam, mereka akan mudah bersungguh-sungguh menetapi agama ini setelah dewasa. Jika engkau gembleng mereka untuk siap menghadapi kesulitan, maka kelak mereka tak mudah ambruk hanya karena langkah mereka terhalang oleh kendala-kendala yang menghadang. Tetapi jika engkau salah membekali, mereka akan menjadi beban bagi ummat ini di masa yang akan datang. Cemerlangnya otak sama sekali tidak memberi keuntungan jika hati telah beku dan kesediaan untuk berpayah-payah telah runtuh.
Maka, ketika engkau mengurusi anak-anak di sekolah, ingatlah sejenak. Tugas utamamu bukan sekedar mengajari mereka berhitung. Bukan! Engkau sedang berdakwah. Sedang mempersiapkan generasi yang akan mengurusi umat ini 30 tahun mendatang. Dan ini pekerjaan sangat serius. Pekerjaan yang memerlukan kesungguhan berusaha, niat yang lurus, tekad yang kuat serta kesediaan untuk belajar tanpa henti.
Karenanya, jangan pernah main-main dalam urusan ini. Apa pun yang engkau lakukan terhadap mereka di kelas, ingatlah akibatnya bagi dakwah ini 30 40 tahun yang akan datang. Jika mereka engkau ajari curang dalam mengerjakan soal saja, sesungguhnya urusannya bukan hanya soal bagaimana agar mereka lulus ujian. Bukan. Yang terjadi justru sebaliknya, masa depan umat sedang engkau pertaruhkan!!! Tidakkah engkau ingat bahwa induk segala dusta adalah ringannya lisan untuk berdusta dan tiadanya beban pada jiwa untuk melakukan kebohongan.
Maka, ketika mutu pendidikan anak-anak kita sangat menyedihkan, urusannya bukan sekedar masa depan sekolahmu. Bukan. Sekolah ambruk bukan berita paling menyedihkan, meskipun ini sama sekali tidak kita inginkan. Yang amat perlu kita khawatiri justru lemahnya generasi yang bertanggung-jawab menegakkan dien ini 30 tahun mendatang. Apa yang akan terjadi pada umat ini jika anak-anak kita tak memiliki kecakapan berpikir, kesungguhan berjuang dan ketulusan dalam beramal?
Maka…, ketika engkau bersibuk dengan cara instant agar mereka tampak mengesankan, sungguh urusannya bukan untuk tepuk tangan saat ini. Bukan pula demi piala-piala yang tersusun rapi. Urusannya adalah tentang rapuhnya generasi Muslim yang harus mengurusi umat ini di zaman yang bukan zamanmu. Kitalah yang bertanggung-jawab terhadap kuat atau lemahnya mereka di zaman yang boleh jadi kita semua sudah tiada.
Hari ini, ketika di banyak tempat, kemampuan guru-guru kita sangat menyedihkan, sungguh yang paling mengkhawatirkan adalah masa depan umat ini. Maka, keharusan untuk belajar bagimu, wahai Para Guru, bukan semata urusan akreditasi. Apalagi sekedar untuk lolos sertifikasi. Yang harus engkau ingat adalah: “Ini urusan umat. Urusan dakwah.” Jika orang-orang yang sudah setengah baya atau bahkan telah tua, sulit sekali menerima kebenaran, sesungguhnya ini bermula dari lemahnya dakwah terhadap mereka ketika masih belia; ketika masih kanak-kanak. Mereka mungkin cerdas, tapi adab dan iman tak terbangun. Maka, kecerdasan itu bukan menjadi kebaikan, justru menjadi penyulit bagi mereka untuk menegakkan dien.
Wahai Para Guru, belajarlah dengan sungguh-sungguh bagaimana mendidik siswamu. Engkau belajar bukan untuk memenuhi standar dinas pendidikan. Engkau belajar dengan sangat serius sebagai ibadah agar memiliki kepatutan menjadi pendidik bagi anak-anak kaum Muslimin. Takutlah engkau kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Sungguh, jika engkau menerima amanah sebagai guru, sedangkan engkau tak memiliki kepatutan, maka engkau sedang membuat kerusakan.
Sungguh, jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, tunggulah saatnya (kehancuran) tiba.
Ingatlah hadis Nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari:
إِذَا ضُيِّعَتِ اْلأَمَانَةُ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ. قَالَ: كَيْفَ إِضَاعَتُهَا يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: إِذَا أُسْنِدَ اْلأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ.
“Jika amanah telah disia-siakan, maka tunggulah hari Kiamat,” Dia (Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu) bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah menyia-nyiakan a
n kepada Allah Ta’ala dan menjaga diri kita dari berlepas diri terhadap Allah Ta’ala bersebab demikian pekatnya ‘ujub menutupi diri kita.
Marilah sejenak kita ingat do’a yang dituntunkan oleh RasulullahshallaLlahu ‘alaihi wa sallam:
"اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو فَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ وَأَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ"
"Ya Allah, rahmat-Mu yang kuharapkan. Maka janganlah Engkau jadikan aku bergantung kepada diriku sendiri, walaupun hanya sekejap mata. Dan perbaikilah seluruh keadaanku. Tidak ada yang berhak diibadahi melainkan Engkau." Do'a dari hadis shahih riwayat Abu Dawud.
Semoga catatan sederhana ini bermanfaat. Kepada Allah Ta’ala kita meminta pertolongan. Semoga Allah Ta’ala limpahi kita semua dengan husnul khatimah. Semoga pula Allah Ta’ala baguskan keturunan kita. Allahumma aamiin.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Mengilmui Sebelum Mendidik
Oleh: Mohammad Fauzil Adhim
Apakah yang kita harapkan dari anak-anak kita? Apakah yang ingin kita petik dari upaya kita mendidik anak-anak kita? Umur belum tentu panjang. Begitu pula umur anak-anak kita. Tetapi yang pasti, kita semua akan mati dan menuju kehidupan abadi sesudah langit digulung dan bumi di lipat. Jika kita salah niat dalam mendidik anak, maka letih lelah kita mengasuh kita hanya menjadi kepayahan yang tidak membawa kebaikan sama sekali di akhirat. Apalagi jika niat salah, berpayah-payah pun enggan bersebab lebih menyukai jalan pintas yang instant.
Apakah yang kita rindui dari anak-anak kita? Penat berpeluh kita merawat dan mengasuh mereka, akan sia-sia tak berguna jika salah niat kita mendidik mereka, salah pula langkah kita dalam menjalankannya. Maka memperbaiki niat dan terus-menerus saling mengingatkan antara suami dan isteri, sangat penting untuk menjaga arah. Juga, agar tidak mudah rontok tatkala menghadapi kesulitan dalam proses mendidik anak. Kita perlu ingat, setiap perjuangan memang memerlukan kesediaan untuk berpayah-payah. Bahkan kita kadang harus sakit. Tapi jika kita punya cita-cita kuat, maka sungguh sakit yang mendera badan itu akan lebih ringan kita rasakan di hati. Bukan tak terasa sakitnya, bukan pula kita ingin menderita, tetapi kepayahan itu tak memberatkan langkah kita, tidak juga membuat kita berputus asa sehingga segera mencari jalan pintas dalam mendidik anak-anak.
Ingatlah tidak ada kedewasaan yang bersifat instant. Tidak pula ada keshalihan yang instant. Sulap pun yang tampak instant, sesungguhnya tidak instant. Tukang sulap perlu belajar lama untuk dapat melakukan atraksi sulap dengan cepat. Kalaulah ada yang instant, itu adalah minuman instant atau mie instant. Itu pun, proses menuju ke sana tidak instant. Maka, mengapakah kita menginginkan perubahan yang terjadi dalam sekejap dalam mendidik anak-anak kita, padahal kita mengharapkan manfaatnya untuk masa yang sangat panjang?
Mari sejenak kita bertanya pada diri sendiri, atas berbagai hal yang kita lakukan terhadap anak, termasuk les yang kita berikan kepada anak-anak kita, sebenarnya untuk kepentingan mereka atau demi memuaskan keinginan kita? Demi kebaikan mereka di masa yang akan datang ataukah demi kebanggaan kita di hadapan kawan dan kerabat untuk masa yang sesaat saja?
Jadi, yang pertama perlu kita benahi dan senantiasa kita perbaiki adalah niat kita mendidik anak. Tak putus-putus kita berupaya menata niat kita, meluruskannya agar tidak salah arah. Kita kuatkan niat beriring dengan menjaga khasy-yah, yakni rasa takut kita kalau-kalau meninggalkan generasi yang lemah dibelakang kita sebagaimana Allah Ta’ala telah serukan di dalam Al-Qur’an surat An-Nisaa’ ayat 9:
وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS. An-Nisaa’, 4: 9).
Ini berarti, rasa takut yang menjadikan kita senantiasa berhati-hati merupakan bekal penting mendidik anak, lebih penting daripada pengetahuan kita tentang teknik berkomunikasi maupun cara mengajari anak membaca. Bukan saya menyepelekan manfaat mengajari anak membaca. Saya bahkan menulis buku berjudulMembuat Anak Gila Membaca. Tetapi sebelum itu semua, yang harus kita miliki adalah rasa takut; rasa khawatir tentang masa depan anak sepeninggal kita yang membuat kita selalu berbenah dan menambah bekal mendidik.
Nah.
Bakda niat yang terus perlu kita perbaiki dengan saling mengingatkan antara suami dan isteri, hal berikutnya yang perlu kita pegangi adalah ikhlas dalam mendidik. Ikhlas sebenarnya merupakan bagian dari niat, tetapi kita perlu bahas tersendiri agar lebih jelas dan membekas pada diri kita.
Apakah ikhlas itu? Melakukan amal dan ibadah semata-mata untuk meraih ridha Allah Ta’ala. Jad
Ingin baca tulisan tersebut di facebook? Klik di sini:
https://m.facebook.com/notes/mohammad-fauzil-adhim/seperti-apa-kelas-anak-kita/931401633575632
Seperti Apa Kelas Anak Kita?
Oleh: Mohammad Fauzil Adhim
Ada tiga macam kelas dilihat dari tingkat keterlibatan siswa terhadap proses pembelajaran, yakni kelas yang sangat menggugah (The Highly Engaged Classroom), kelas yang terkelola dengan baik (The Well Managed Classroom) serta kelas sakit yang bersifat patologis (The Pathological Classroom). Pertanyaannya, di sekolah Anda (tepatnya di sekolah tempat anak Anda belajar), kelas macam manakah yang umumnya ada?
Menurut Schlechty, ada lima cara siswa menanggapi dan beradaptasi terhadap tugas-tugas maupun kegiatan yang berhubungan dengan sekolah. Kelima cara menanggapi tugas-tugas maupun kegiatan tersebut berkait erat dengan tingkat perhatian maupun komitmen siswa. Selengkapnya, mari kita periksa satu per satu:
1. Engagement (Terlibat Penuh): Perhatian Tinggi – Komitmen Tinggi
Siswa mengaitkan tugas dengan hasil atau produk yang memiliki makna serta nilai (value) bagi dirinya. Ini bukanlah soal pemahaman, tetapi terutama pada bagaimana siswa menganggap dan merasakan betul bahwa seluruh rangkaian kegiatan sekolah maupun tugas yang menyertai memang sangat penting baginya; sangat berharga untuk hidupnya. Siswa yang seperti ini akan gigih dalam menghadapi berbagai kesulitan dan terus berusaha untuk belajar secara mendalam serta berusaha meraih keunggulan yang lebih tinggi.
Kelas yang banyak dipenuhi oleh siswa dengan tingkat keterlibatan sangat tinggi akan memudahkan guru mengajar. Mereka lebih mudah menyesuaikan diri dan mencurahkan perhatian besar kepada proses pembelajaran yang diberikan oleh guru karena memiliki komitmen tinggi untuk belajar. Kekurangan guru dalam mengajar tertutupi oleh besarnya kesungguhan siswa meraup ilmu. Akan sangat sempurna apabila siswa memiliki kesungguhan, perhatian dan komitmen tinggi terhadap belajar, sementara guru memiliki komitmen yang kuat, kesungguhan mengajar serta kemampuan menyampaikan materi secara sangat menarik.
Tingkat keterlibatan tinggi dalam belajar ini bisa muncul alamiah pada sebagian siswa kecil dengan berbagai sebab yang melatarbelakangi, dapat pula tumbuh sebagai hasil dari upaya terencana sekolah menumbuhkan sikap positif terhadap belajar, hormat kepada ilmu dan ahlul ilmi.
Sudahkah guru-guru di sekolah melakukannya semenjak awal? Di SD, tugas ini terutama berada pada pundak guru kelas 1-3, sehingga di tingkat berikutnya keterlibatan yang besar itu akan cenderung muncul pada diri tiap siswa.
2. Strategic Compliance (Kepatuhan Strategis): Perhatian Tinggi – Komitmen Rendah
Kegiatan maupun tugas yang diberikan kepada siswa sedikit sekali niat yang melekat atau secara langsung dirasakan oleh siswa, tetapi siswa mengaitkannya dengan capaian atau hasil yang memiliki nilai bagi siswa, semisal kenaikan kelas. Siswa bersungguh-sungguh pada sebagian kegiatan hanya karena itu mempengaruhi kelulusan, sementara ia sangat perlu lulus demi mengejar apa yang diharapkannya di perguruan tinggi, misalnya. Artinya, siswa mencurahkan perhatian bukan karena ia memiliki komitmen terhadap ilmu atau kegiatan yang dijalaninya tersebut, tetapi semata agar ia lebih mudah meraih apa yang diinginkannya.
Itu sebabnya siswa akan meninggalkan tugas-tugas, pekerjaan atau pelajaran yang dirasa berpengaruh apa pun terhadap pencapaian tujuan atau tidak bermanfaat untuk mempertahankan hasil yang diraihnya. Rumit? Gambaran sederhananya begini. Tatkala yang muncul hanyalah kepatuhan strategis, maka siswa tidak memberi perhatian kepada berbagai mata pelajaran maupun tugas yang tidak berhubungan secara langsung dengan kesuksesannya di masa yang akan datang, tidak juga mempengaruhi kelulusan. Siswa yang kurang relijius tidak merasa perlu belajar agama jika agama tidak turut menjadi penentu syarat kelulusan.
3. Ritual Compliance (Kepatuhan Ritual): Perhatian Rendah – Komitmen Rendah
Siswa mau melakukan upaya apa pun yang diperlukan semata-mata demi menghindarkan diri dari hukuman atau berbagai konsekuensi negatif lainnya. Ini akan lebih parah apabila sekolah atau kelas menerapkan model peraturan yang menekankan kepada konsekuensi negatif, tetapi konse
Atau telusuri di website Hidayatullah:
http://www.hidayatullah.com/kolom/meminang-surga/read/2015/11/07/82881/al-matsnah.html
Al-Matsnah
Oleh: Mohammad Fauzil Adhim
Merenungi sabda Nabi Muhammad shallaLlahu 'alaihi wa sallam seraya mencoba melihat apa yang telah dan sedang berlangsung. Semoga belum terjadi di negeri ini, di kampung-kampung kita:
مِنْ اقْتِرَابِ السَّاعَةِ أَنْ تُرْفَعَ الأَشْرَارُ وَ تُوْضَعَ الأَخْيَارُ وَ يُفْتَحَ الْقَوْلُ وَ يُخْزَنَ الْعَمَلُ وَ يُقْرَأُ بِالْقَوْمِ الْمَثْنَاةُ لَيْسَ فِيْهِمْ أَحَدٌ يُنْكِرُهَا قِيْلَ : وَ مَا الْمَثْنَاةُ ؟ قَالَ : مَا اكْتُتِبَتْ سِوَى كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ
“Di antara (tanda) dekatnya hari kiamat adalah dimuliakannya orang-orang yang buruk, dihinakannya orang-orang yang terpilih (shalih), dibuka perkataan dan dikunci amal, dan dibacakan Al-Matsnah di suatu kaum. Tidak ada pada mereka yang berani mengingkari (kesalahannya)”. Dikatakan: “Apakah Al-Matsnah itu? beliau menjawab: “Semua yang dijadikan panduan selain kitabullah ‘Azza wa Jalla.” (HR. Al-Hakim).
Di masa itu, manusia berlomba melontarkan kalimat bijak, berpacu pula dalam menyebarluaskan perkataan, tetapi petunjuk semakin menjauh. Tak sedikit manusia yang saling berbicara agama, tapi bukan agama yang menjadi sumber panduannya. Mereka mengambil panduan dari luar, termasuk yang dikatakan sebagai hasil penelitian ilmiah dari para "ilmuwan" yang bahkan tak beragama, lalu mengamalkannya dengan meyakininya sebagai amaliyah agama. Kian sedikit amal dengan sungguh-sungguh berpegang pada agama. Tapi banyak amal seolah dari Islam, padahal bukan. Inilah al-matsnah.
Apa saja cakupan al-matsnah? Apa saja yang bukan sungguh-sungguh berdasarkan agama, lalu dijadikan panduan beragama karena dianggap baik. Tak sedikit amal yang menyerupai tuntunan agama, tetapi yang menjadi penggerak dan keyakinan mereka adalah panduan dari luar agama. Keyakinan tentang perintah ataupun balasannya juga berasal dari luar agama atau gabungan dari keduanya; menggunakan dalil umum agama, menjadikan yang dari luar agama sebagai panduan utama ataupun khusus.
Boleh jadi amal yang menyerupai agama itu adalah do'a, sedekah atau bahkan perjalanan ibadah. Tetapi dasar acuannya bukan agama. Mereka menemukan fitnah syubhat yang disangka ilmiah, atau perkataan yang dianggap mulia tanpa sedikit pun meragukannya, lalu beramal dengannya dan menganggapnya amaliyah Islam. Sangat mungkin pula memperoleh pembenaran dalil agama, tetapi panduan sesungguhnya yang menggerakkan kepada amal bukanlah Islam.
Ketika itu, sebagaimana kita baca pada hadis di atas, manusia tidak berani mengingkari kesalahan amaliyah maupun perkataan tersebut. Sesiapa mengingkari, ia akan dihinakan. Sesiapa mengingkari amalan yang panduannya justru dari para ilmuwan yang mungkin musyrikin ataupun atheis, ia dianggap menolak kebaikan.
Adakalanya seseorang membaca sesuatu, yang ilmiah menurut ilmu pengetahuan modern maupun yang disangka ilmiah padahal hanya permain istilah saja (play acting as science), atau bisa juga ilmu pengetahuan semu (pseudoscience). Yang disebut terakhir ini dianggap benar-benar ilmiah, padahal menurut standar ilmu pengetahuan pun sama sekali tidak dapat diterima. Tetapi apa pun itu, berdasarkan apa yang dibaca atau dipelajari, lalu menemukan di antara ajaran agama ini seolah-olah menyerupai, lalu dijadikan pembenaran atas "pengetahuan baru" tersebut. Ia kemudian mengamalkan dengan sungguh-sungguh. Seolah-olah berdasarkan agama, padahal agama hanya menjadi pembenaran, meskipun do'a-do'a yang ia baca memang berasal dari agama.
Sungguh, al-matsnah adalah sesuatu yang sangat buruk. Tetapi akan ada masa mereka yang menjadikannya sebagai panduan dianggap mulia. Sementara orang-orang mulia justru dihinakan. Semoga belum datang masa ketika dibacakannya al-matsnah seolah menekuni agama.
Diam-diam merinding; khawatir jangan-jangan justru yang banyak menggunakan al-matsnah justru diriku sendiri. O Allah, perjalankanlah aku di jalan-Mu dan jangan palingkan aku dari agama yang Engkau ridhai ini.
PR Mencerdaskan untuk Anak Kita
Pembahasan tertulis dapat dibaca di facebook:
https://t.co/VgyaPT3fz5
Semoga catatan sederhana ini ...
Mengangkat Suara untuk Menyampaikan Ilmu
حدثنا أبو النعمان عارم بن الفضل قال حدثنا أبو عوانة عن أبي بشر عن يوسف بن ماهك عن عبد الله بن عمرو قال : تخلف عنا النبي صلى الله عليه و سلم في سفرة سفرناها فأدركنا – وقد أرهقتنا الصلاة – ونحن نتوضأ فجعلنا نمسح على أرجلنا فنادى بأعلى صوته ( ويل للأعقاب من النار ) . مرتين أو ثلاثا
Abu an-Nu’man ‘Arim bin al-Fadhl menuturkan kepada kami. Dia berkata: Abu Awanah menuturkan kepada kami dari Abu Bisyr dari Yusuf bin Mahak dari Abdullah bin Amr radhiyallahu’anhu. Dia berkata: Suatu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tertinggal dari rombongan dalam sebuah perjalanan yang kami lakukan. Lalu beliau pun berhasil menyusul kami namun waktu shalat sudah demikian sempit. Kami pun segera berwudhu seolah-olah hanya dengan mengusap kaki kami. Maka beliau pun berseru dengan suara keras, “Celakalah tumit-tumit (yang tidak terbasuh air) oleh jilatan api neraka.” Beliau mengucapkannya dua atau tiga kali. (HR. Bukhari).
Hadis ini menjadi hujjah tentang mengangkat suara (menyampaikan dengan suara keras) untuk tujuan menyampaikan ilmu, berbicara di keramaian manusia dan menegaskan hal yang sangat penting demi mencegah dari bahaya.
Kita juga memperoleh pelajaran berharga tentang mencela perbuatan, tetapi bukan mencela orang-orangnya. Tidak pula mencaci maki. Celaan sebagai peringatan yang sangat serius.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Ketiga aspek tersebut harus ada pada diri guru. Tetapi jika kita harus memilih, maka yang paling penting adalah aspek integritas. Inilah yang paling sulit dibentuk dan sekaligus sangat menentukan kualitas pribadi seorang guru. Tingginya jenjang pendidikan dan ungulnya kompetensi tidak akan bernilai apa-apa jika guru tidak memiliki integritas yang kuat.
Seorang guru harus memiliki kredibilitas yang tinggi. Sekali rusak, kredibilitas itu sulit dipulihkan. Tetapi kredibilitas masih lebih mudah dibangun kembali daripada integritas. Begitu pula motivasi. Meskipun membangun motivasi jauh lebih sulit daripada membangun kompetensi, tetapi masih lebih mudah dibanding membangun integritas. Menyemangati guru melalui training motivasi memang mudah, tetapi membangun pribadi yang memiliki motivasi intrinsik sangat kuat memerlukan perencanaan serta kesediaan untuk bersabar dan bersungguh-sungguh.
Jadi, perhatikan integritas guru dan lembaganya lebih dulu. Baru motivasi guru selaku pengajar, lalu kompetensinya baik dalam bidang yang diajarkan maupun dalam kemampuannya mengajar. Guru yang kurang kompeten, akan mudah mencapai tingkat kemampuan yang diharapkan melalui serangkaian training, proses pendidikan melalui kursus singkat maupun kuliah atau kegiatan belajar otodidak jika mereka memiliki motivasi yang sangat kuat.
Nah, apa yang sudah Anda persiapkan untuk memastikan anak-anak memperoleh pendidikan terbaik?
Selebihnya, ada yang perlu kita perhatikan. Jika sekolah dasar berkewajiban meletakkan dasar-dasar pengetahuan agar anak mampu mengembangkan keterampilan belajar di masa-masa berikutnya serta menguasai konsep dasar yang sangat menentukan bagi upaya untuk menguasai ilmu pengetahuan yang lebih lanjut, maka jenjang pendidikan SLTP merupakan masa dimana anak-anak perlu mengembangkan diri serta memiliki orientasi belajar yang kuat. Pada masa ini, anak memerlukan figur yang kuat. Anak-anak juga memerlukan dasar-dasar berpengetahuan sehingga mereka memiliki kecintaan yang kuat terhadap belajar dan kecenderungan yang besar terhadap ilmu. Ini merupakan tugas guru-guru SD yang perlu memperoleh penguatan di SLTP, sebelum kelak akhirnya mereka mengembangkan kompetensi akademik maupun kecakapan profesional pada jenjang pendidikan SLTA.
Yang Khas Pada Remaja Awal
Satu lagi yang harus kita ingat. Pada masa remaja awal, anak memiliki dorongan kuat dalam beberapa segi. Pertama, mereka mulai menyukai lawan jenis. Ada ketertarikan secara seksual yang sekaligus menandai peralihan dari masa kanak-kanak menuju dewasa. Pada masa transisi ini mereka memerlukan orientasi seks yang baik, misal melalui pendidikan yang membangun wawasan keluarga sembari pada saat yang sama mereka belajar tentang etika dan aturan mengenai pergaulan dengan lawan jenis. Jika ini tidak kita perhatikan, mereka akan menyibukkan diri dengan hasrat mereka terhadap lawan jenis.
Kedua, mereka sedang ingin menunjukkan siapa dirinya. Mereka memerlukan kepercayaan untuk bertanggung-jawab sekaligus kesempatan untuk unjuk prestasi. Jika mereka tidak mampu secara akademik, mereka perlu prestasi yang membanggakan di bidang lain. Jika dua-duanya tidak mampu, sementara tidak ada figur yang mereka hormati, maka mereka akan mencari pengakuan melalui kegiatan-kegiatan negatif seperti tawuran.
Ketiga, mereka sedang mempertanyakan nilai-nilai dasar. Pada saat yang sama, mereka sedang berada pada situasi yang sangat bersemangat untuk menjadi manusia idealis. Inilah masa ketika mereka mulai berani menunjukkan pemberontakan. Dan ini merupakan potensi besar jika ada figur kuat yang berpengaruh pada diri mereka. Di sekolah, gurulah yang harus menjadi figur berpengaruh tersebut!
Nah, siapakah guru yang akan mempengaruhi anak Anda?
Memilih Sekolah untuk Anak
Oleh Mohammad Fauzil Adhim
Apa pun yang Anda harapkan sebelum memasukkan anak ke sebuah sekolah, perhatikan siapa gurunya. Mereka inilah yang paling mempengaruhi perkembangan anak di masa-masa berikutnya, terlebih jika yang Anda inginkan merupakan sekolah sehari penuh (full day school) atau sekolah berasrama (boarding school), baik yang memakai label pondok pesantren atau pun tidak. Semakin efektif seorang guru, semakin besar pengaruhnya terhadap siswa sehingga ia menjadi sosok yang dominan. Kata-katanya didengar, nasehatnya dipatuhi dan larangannya dihormati. Jika ia akrab dengan siswa, keakrabannya tidak membuatnya kehilangan kehormatan. Jika ia tidak akrab dengan siswa, ketidakrabannya bukan menjadi sebab kuatnya rasa takut dalam hati siswa. Sesungguhnya wibawa yang kuat menjadikan siswa merasa segan, sementara rasa takut menimbulkan rasa enggan untuk mendekat.
Jadi, pertanda apakah jika guru banyak berkeluh-kesah tentang betapa sulitnya menasehati siswa? Ini menunjukkan bahwa ia termasuk guru yang tidak efektif. Jika keluhan semacam itu merata pada hampir semua guru, langkah berikutnya yang perlu Anda lakukan hanya satu: memeriksa siapakah yang mendaftarkan diri sebagai siswa di sekolah tersebut? Jika anak-anak yang masuk sebagai siswa baru memang sedari awal sudah bermasalah, berarti Anda sedang berada di sekolah yang tidak efektif. Mereka lemah dalam strategi pengelolaan siswa dan tidak memiliki visi pengasuhan yang jelas. Tetapi Anda masih mempunyai harapan jika sekolah memiliki keinginan yang sangat kuat untuk mengubah siswanya. Begitu pula guru-gurunya, sangat besar perhatiannya terhadap perbaikan dan kemajuan siswanya. Jika rata-rata siswa yang masuk sekolah tersebut sebenarnya bukan anak bermasalah, berarti Anda sedang berada di sekolah yang sakit. Manajemen sekolah buruk dan guru-guru tidak memiliki kompetensi pengelolaan siswa maupun pengelolaan kelas. Keadaan semacam ini akan berpengaruh besar baik terhadap sikap siswa, perilaku maupun prestasi akademik mereka.
Tentu saja guru yang baik dan sekolah yang efektif bukan tidak pernah membicarakan masalah siswa. Justru sekolah efektif kerapkali secara sengaja meluangkan waktu khusus setiap minggunya untuk membicarakan berbagai masalah yang mereka hadapi dan boleh jadi apa yang dianggap masalah di sekolah tersebut sama sekali tidak dianggap masalah di sekolah lain. Sekolah efektif dan guru-guru hebat bersemangat membicarakan masalah siswa dalam rangka meningkatkan kualitas anak didiknya ke tingkat yang lebih tinggi. Jika pun masalah yang mereka bicarakan merupakan ketidakpatutan (perilaku bolos, melecehkan teman dan sejenisnya), guru yang hebat akan fokus pada upaya menemukan jalan keluar. Solusi. Bukan sibuk dengan masalah itu sendiri. Apalagi sampai asyik menggunjingkan anak tersebut.
Yang terakhir ini, yakni perilaku guru yang senang membicarakan masalah siswa untuk menemukan keasyikan menggunjing siswa atau pun berkeluh-kesah, merupakan tanda bahaya sangat serius terutama di jenjang pendidikan anak usia dini. Pastikan, Anda segera memindahkan anak ke sekolah yang lebih positif bagi perkembangan anak jika guru-guru semacam itu masih tetap bertahan. Mereka tidak mau berubah, tetapi tidak bersedia untuk berhenti menjadi guru.
Di jenjang pendidikan apa pun, anak-anak kita memerlukan guru yang hebat. Mereka bukan saja mampu menyampaikan materi pelajaran dengan baik sehingga anak mudah memahami. Lebih penting dari itu mereka mampu mempengaruhi pikiran, perasaan dan sikap siswa. Mereka menginspirasikan kebaikan, nilai-nilai luhur dan karakter yang mulia. Bukan hanya menjelaskan dan memberi serangkaian instruksi.
Oleh sebab itu, ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan sebelum memasukkan anak ke sebuah sekolah. Pertama, integritas pribadi para pendidiknya. Mereka yang sangat kuat integritasnya akan mendahulukan nilai yang mereka pegangi, aqidah yang mereka yakini. Mereka juga sangat peka terhadap prinsip-prinsip yang harus ditegakkan dalam hidup. Mereka mampu memilih hal yang kurang menyenangkan bagi dirinya, meski ada pilihan y
Ingin baca tulisan tersebut di facebook? Klik di sini:
https://m.facebook.com/notes/mohammad-fauzil-adhim/jangan-remehkan-dakwah-kepada-anak/436312186417915/
manah itu?” Beliau menjawab, “Jika satu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya, maka tunggulah hari Kiamat!” (HR. Bukhari).
Maka, keharusan untuk belajar dengan sungguh-sungguh, terus-menerus dan serius bukanlah dalam rangka memenuhi persyaratan formal semata-mata. Jauh lebih penting dari itu adalah agar engkau memiliki kepatutan menurut dien ini sebagai seorang guru. Sungguh, kelak engkau akan ditanya atas amanah yang engkau emban saat ini.
Wahai Para Guru, singkirkanlah tepuk tangan yang bergemuruh. Hadapkan wajahmu pada tugas amat besar untuk menyiapkan generasi ini agar mampu memikul amanah yang Allah Ta’ala berikan kepada mereka. Sungguh, kelak engkau akan ditanya di Yaumil-Qiyamah atas urusanmu.
Jika kelak tiba masanya sekolah tempatmu mengajar dielu-elukan orang sehingga mereka datang berbondong-bondong membawa anaknya agar engkau semaikan iman di dada mereka, inilah saatnya engkau perbanyak istighfar. Bukan sibuk menebar kabar tentang betapa besar nama sekolahmu. Inilah saatnya engkau sucikan nama Allah Ta’ala seraya senantiasa berbenah menata niat dan menelisik kesalahan diri kalau-kalau ada yang menyimpang dari tuntunan-Nya. Semakin namamu ditinggikan, semakin perlu engkau perbanyak memohon ampunan Allah ‘Azza wa Jalla.
Wahai Para Guru, sesungguhnya jika sekolahmu terpuruk, yang paling perlu engkau tangisi bukanlah berkurangnya jumlah siswa yang mungkin akan terjadi. Ada yang lebih perlu engkau tangisi dengan kesedihan yang sangat mendalam. Tentang masa depan ummat ini; tentang kelangsungan dakwah ini, di masa ketika kita mungkin telah tua renta atau bahkan sudah terkubur dalam tanah.
Ajarilah anak didikmu untuk mengenali kebenaran sebelum mengajarkan kepada mereka berbagai pengetahuan. Asahlah kepekaan mereka terhadap kebenaran dan cepat mengenali kebatilan. Tumbuhkan pada diri mereka keyakinan bahwa Al-Qur’an pasti benar, tak ada keraguan di dalamnya. Tanamkan adab dalam diri mereka. Tumbuhkan pula dalam diri mereka keyakinan dan kecintaan terhadap As-Sunnah Ash-Shahihah. Bukan menyibukkan mereka dengan kebanggaan atas dunia yang ada dalam genggaman mereka.
Ini juga berlaku bagi kita.
Ingatlah do’a yang kita panjatkan:
“اللهُمَّ أَرِنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا التِبَاعَةَ وَأَرِنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ”
“Ya Allah, tunjukilah kami bahwa yang benar itu benar dan berilah kami rezeki kemampuan untuk mengikutinya. Dan tunjukilah kami bahwa yang batil itu batil, serta limpahilah kami rezeki untuk mampu menjauhinya.”
Inilah do’a yang sekaligus mengajarkan kepada kita agar tidak tertipu oleh persepsi kita. Sesungguhnya kebenaran tidak berubah menjadi kebatilan hanya karena kita mempersepsikan sebagai perkara yang keliru. Demikian pula kebatilan, tak berubah hakekatnya menjadi kebaikan dan kebenaran karena kita memilih untuk melihat segi positifnya. Maka, kepada Allah Ta’ala kita senantiasa memohon perlindungan dari tertipu oleh persepsi sendiri.
Pelajarilah dengan sungguh-sungguh apa yang benar; apa yang haq, lebih dulu dan lebih sungguh-sungguh daripada tentang apa yang efektif. Dahulukanlah mempelajari apa yang tepat daripada apa yang memikat. Prioritaskan mempelajari apa yang benar daripada apa yang penuh gebyar. Utamakan mempelajari hal yang benar dalam mendidik daripada sekedar yang membuat sekolahmu tampak besar bertabur gelar. Sungguh, jika engkau mendahulukan apa yang engkau anggap mudah menjadikan anak hebat sebelum memahami betul apa yang benar, sangat mudah bagimu tergelincir tanpa engkau menyadari. Anak tampaknya berbinar-binar sangat mengikuti pelajaran, tetapi mereka hanya tertarik kepada caramu mengajar, tapi mereka tak tertarik belajar, tak tertarik pula menetapi kebenaran.
***
Jangan sepelekan dakwah terhadap anak! Kesalahan mendidik terhadap anak kecil, tak mudah kelihatan. Tetapi kita akan menuai akibatnya ketika mereka dewasa. Betapa banyak yang keliru menilai. Masa kanak-kanak kita biarkan direnggut TV dan tontonan karena menganggap mendidik anak yang lebih besar dan lebih-lebih orang dewasa, jauh lebih sulit dibanding mendidik anak kecil. Padahal sulitn
Saat tulisan tersebut saya sebar di Telegram, belum ada link yang dapat saya sertakan, termasuk dari facebook. Jika sudah saya publikasikan di facebook, in sya Allah saya infokan linknya.
Читать полностью…
i, kata kuncinya adalah melakukan dan apa yang dilakukan tersebut semata-mata untuk mencari wajah Allah Ta’ala; dalam keadaan berat maupun ringan. Meskipun merasa berat dengan kebaikan yang patut kita lakukan, tetapi jika kita tetap mengerjakannya demi untuk meraih ridha Allah ‘Azza wa Jalla, maka sesungguhnya itulah ikhlas.
Tetapi…
Keinginan saja tidak cukup. Kita dapat mengatakan bahwa jerih-payah kita mendidik anak hanyalah untuk meraih ridha Allah subhanahu wa ta’ala. Tetapi apakah cara yang kita tempuh dalam mendidik anak? Adakah cara kita merupakan cara yang Allah Ta’ala ridhai; cara yang Allah Ta’ala sukai? Adakah cara itu bersesuaian dengan tuntunan RasulullahshallaLlahu ‘alaihi wa sallam ataukah justru menyelisihinya? Inilah yang perlu kita telisik pada diri kita. Bagaimana kita akan mencari ridha Allah ‘Azza wa Jalla jika cara kita mendidik anak justru menyelisihi sunnah? Apalagi jika sampai nyata-nyata bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-Shahihah.
Ini berarti kita perlu berusaha untuk mengilmui tuntunan mendidik anak. Kita perlu berusaha membekali diri dengan ilmu sebelum Allah Ta’ala karuniai keturunan kepada kita. Bukan tidak boleh belajar psikologi maupun pengetahuan parenting lainnya, tetapi terlebih dahulu membekali diri dengan pemahaman terhadap tuntunan agama dan mengokohkan iltizam (komitmen) terhadapnya. Bekal ini perlu terus kita perbarui. Begitu pula keyakinan dan komitmen kita kepada sunnah, perlu senantiasa kita perbaiki. Dan sekiranya kita belum membekali diri dengan tuntunan agama, maka sekarang inilah saatnya memperbaiki bekal ilmu kita.
Ini semua perlu kita lakukan agar langkah kita mendidik anak sejalan dengan niat. Sekali lagi, bagaimana kita akan mengatakan bahwa kita benar-benar ikhlas mendidik anak; benar-benar mencari ridha Allah Ta’ala sedangkan cara yang kita tempuh justru menyelisihi agama?
Semoga Allah Ta’ala ampuni saya atas kelalaian saya yang telah berlalu serta atas kurangnya bekal agama dalam mendidik anak. Semoga pula Allah Ta’ala ampuni saya atas kelalaian saya menyiapkan istri serta keluarga. Semoga Allah Ta’ala mudahkan Anda dalam mendidik sesuai tuntunan agama. Semoga pula Allah Ta’ala kokohkan keikhlasan kita mendidik dan mengasuh anak-anak kita.
Sesungguhnya, keikhlasan mendidik serta lurusnya niat menjadikan kita lebih mudah ridha terhadap berbagai kesulitan maupun hambatan yang kita jumpai dalam mendidik anak. Kesulitan boleh jadi muncul dari perilaku anak, boleh jadi pula muncul dari lingkungan sekeliling kita maupun kejadian yang mengiringi kehidupan kita. Teriknya panas dapat mencegah seseorang dari berbuat kebaikan di luar rumah, semisal mengantarkan anak belajar ke rumah seorang ‘alim. Tetapi kaki kita akan lebih ringan melangkah apabila ridha terhadap kesulitan yang terjadi, atau bahkan itu pun tak terasa sebagai kesulitan buat kita.
Jangan Keburu Berbangga Diri
Kita perlu terus membekali diri dengan ilmu sebelum mendidik seraya berusaha memperbaiki keadaan jiwa kita. Kitalah yang akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Ta’ala atas pendidikan anak-anak kita. Karena itu, kitalah yang harus menyibukkan diri dengan mencari ilmu. Berbekal ilmu, kita akan lebih mudah mengasuh dan mendidik anak-anak kita.
Akan tetapi, setiap keberhasilan dalam mendidik yang kita patut bersyukur dengannya, janganlah menggelincirkan kita ke dalam‘ujub (berbangga diri). Sebanyak apa pun ilmu yang telah kita kuasai, sungguh hanya Allah Ta’ala Yang Menggenggam Jiwa Manusia. Kepada-Nya kita meminta dan memohon pertolongan, termasuk untuk kebaikan anak-anak kita. Ingatlah, sesungguhnya ‘ujub termasuk satu dari tiga perkara yang membinasakan.
Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
ثَلاَثٌ مُهْلِكَاتٌ: شُحٌّ مُطَاعٌ وَهُوَيَ مُتَبَعٌ وَإِعْجَابٌ اْلمَرْءِ بِنَفْسِهِ
“Tiga perkara yang membinasakan: sifat suh (rakus dan bakhil) yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan ‘ujub seseorang terhadap dirinya.” (Silsilah Shahihah, no. 1802).
Betapa pun anak-anak kita tampak baik dan cemerlang prestasinya, andaikan begitu, tetap saja kita perlu senantiasa memoho
Atau telusuri di website Hidayatullah:
Bagian 1:
http://m.hidayatullah.com/kolom/meminang-surga/read/2016/01/04/86720/seperti-apa-kelas-anak-kita-1.html#.Vpb28kmySSw
Bagian 2:
https://m.hidayatullah.com/kolom/meminang-surga/read/2016/01/04/86731/seperti-apa-kelas-anak-kita-2.html#.Vpb3c0mySSw
kuensi tersebut tidak memiliki pengaruh yang berarti bagi siswa. Sederhananya, kepatuhan ritual ini akan lebih buruk lagi jika konsekuensi-konsekuensi yang muncul akibat pelanggaran adalah konsekuensi yang tidak menimbulkan rasa jera. Ini biasanya konsekuensi yang diusulkan siswa sendiri tatkala mereka dilibatkan dalam membuat peraturan kelas beserta konsekuensinya, sementara mereka belum memiliki kecintaan terhadap belajar.
Mengapa demikian? Sebab siswa yang memiliki kepatuhan ritual kurang sekali perhatiannya kepada belajar dan komitmennya kepada ilmu maupun keunggulan diri sendiri pun sangat rendah. Itu sebabnya, siswa hanya melakukan upaya minimal yang dapat menghindarkan diri dari konsekuensi negatif. Siswa melakukan tindakan yang dapat memenuhi ketentuan minimal (minimum requirements) untuk tidak terkena hukuman. Nah, manakala konsekuensi negatif atau pun hukuman tak lagi bermakna, maka upaya itu pun nyaris tidak diperlukan lagi.
Dalam hal ini, siswa akan belajar dengan perhatian yang sangat rendah dan pada tingkat yang sangat permukaan saja.
4. Retreatism (Menarik Diri): Tidak Punya Perhatian – Tidak Ada Komitmen
Siswa tidak tertarik sama sekali untuk mengerjakan tugas-tugas, tidak pula berminat memenuhi apa yang diharapkan sekolah darinya, tetapi siswa tidak berusaha untuk mengganggu teman-temannya yang sedang mengerjakan tugas, tidak pula ia melakukan kegiatan-kegiatan lain sebagai pengganti keengganannya mengerjakan tugas. Siswa “hanya” bersifat pasif, tidak berpartisipasi dalam kegiatan belajar, dan mempelajari sangat sedikit atau bahkan tidak mempelajari apa pun dari beragam tugas maupun kegiatan yang diberikan oleh guru.
5. Rebellion (Pembangkangan): Tidak Ada Perhatian – Tidak Ada Komitmen
Siswa menolak mengerjakan tugas-tugas, tidak mau menuntaskan pekerjaan, melakukan tindakan-tindakan mengganggu orang lain termasuk kawan-kawannya di kelas, atau melakukan hal-hal yang ia sukai (padahal seharusnya ia melakukan tugas lain). Ia melakukan apa yang disukai tersebut sebagai ganti kegiatan yang seharusnya.
Siswa mengembangkan perilaku yang buruk, sikap tercela dan tindakan-tindakan yang merugikan terhadap pendidikan formal, kegiatan belajar maupun tugas-tugas lain dari guru maupun sekolah secara keseluruhan.
Jika sebuah kelas berisi siswa yang sebagian besar, boleh jadi 75 atau 80 persen siswa yang memiliki keterlibatan penuh dalam kegiatan pembelajaran, kemudian sebagian berikutnya siswa yang berkepatuhan strategis, dan hanya sedikit sekali siswa dengan kepatuhan ritual serta hanya satu atau dua yang cenderung menarik diri, maka kelas semacam ini telah dapat dikatakan sebagai kelas yang sangat menggugah (The Highly Engaged Classroom). Ini merupakan kelas yang sangat bagus. Memang ada yang menarik diri atau mau mengerjakan tugas sekedar menghindari konsekuensi negatif, tetapi jumlahnya sangat sedikit.
Adapun yang disebut sebagai kelas yang dikelola dengan sangat baik (well managed classroom) adalah kelas yang komposisi siswa dengan keterlibatan tinggi maupun yang memiliki kepatuhan strategis, cukup mendominasi secara berimbang; masing-masing berkisar 40%. Selebihnya siswa yang mempunyai kepatuhan ritual serta yang menarik diri, jumlahnya berimbang, berkisar masing-masing 10%.
Yang mengerikan adalah kelas sakit yang bersifat patologis (The Pathological Classroom). Jumlah siswa yang memiliki kepatuhan strategis, kepatuhan ritual, menarik diri serta yang membangkang berimbang. Boleh jadi masing-masing sekitar 20-25 persen. Sementara siswa yang memiliki keterlibatan penuh dalam belajar jumlahnya sangat sedikit atau hampir tidak ada. Lebih parah lagi jika jumlah siswa yang membangkang maupun menarik diri lebih dominan. Ini merupakan mimpi yang sangat buruk.
Sebagaimana tubuh kita, kadang organisasi (baca: sekolah) bermasalah karena terkilir. Bagian yang terkilir perlu mendapat penanganan segera. Tetapi justru bagian itulah yang sangat sensitif sehingga disentuh sedikit saja rasanya sudah sangat nyeri.
Atau ada bagian lain yang terkena "bisul organisasi". Saat meradang, diusap baik-baik pun serasa disakiti. Padahal ini perlu dibersihkan segera. Tetapi yang dirasa perlu diobati justru bagian lain.
Apa yang diperlukan di saat seperti itu? Bukan penghilang rasa sakit, bukan penghapus demam, tetapi kesediaan untuk berbenah dan menahan sakit, sebab inilah jalan untuk mengobati. Jika tidak, guru dan karyawan dapat mengalami kemerosotan semangat dalam menunaikan tugas.
Kita dapat memberikan motivasi kepada para guru dan karyawan dengan kisah yang mengharu biru, tetapi ini hanya menggugah sesaat saja. Kita dapat memberikan training yang berapi-api menguras energi, tetapi jika sakitnya tidak diobati, mereka memilih pergi sesudah termotivasi. Komitmen mendidik sudah tumbuh atau pulih, motivasi sudah bangkit lagi, tetapi mereka memilih melakukannya di luar lembaga yang memberikan kepadanya motivasi itu.
Ingin baca tulisan tersebut di facebook? Klik di sini:
https://m.facebook.com/notes/mohammad-fauzil-adhim/al-matsnah/874071335975329